Belajar dari Alam, Melawan Ketimpangan: Renungan Kecil di Hari Pendidikan Nasional
"Sekolah bukan hanya tempat mencari nilai, tapi juga tempat belajar merawat bumi dan sesama"
Oleh: Divisi Pendidikan
Dok. ikamaruwalisongo
SEMARANG, IKAMARUWALISONGO — Ikatan Keluarga Alumni Madrasah Raudlatul Ulum (IKAMARU) Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Biasanya, ramainya soal kurikulum baru, ujian, atau kelulusan. Tapi pernahkah kita bertanya: sudahkah pendidikan kita membuat anak-anak lebih peduli pada lingkungan? Sudahkah sekolah mendekatkan mereka pada kenyataan sosial yang timpang?
Mari kita renungkan bersama.
Alam Kita Sedang Sakit, Lihatlah berita akhir-akhir ini. Banjir di mana-mana. Udara panas tak biasa. Hutan gundul. Laut tercemar plastik. Ini bukan bencana biasa. Ini adalah krisis ekologi. Alam sedang berteriak.
Di Kalimantan, hutan dibuka untuk tambang dan sawit. Di Sumatra, ruang hidup harimau dan gajah semakin sempit. Di Papua, pembangunan berjalan tapi sering melupakan kearifan lokal yang menjaga alam selama ratusan tahun. Bukan berarti pembangunan salah. Tapi kita lupa satu hal: bumi ini bukan warisan dari nenek moyang. Bumi ini adalah titipan dari anak cucu. Siapa yang akan mewarisi kerusakan ini kalau bukan generasi yang sekarang kita didik?
Yang Kaya Makin Kaya, Yang Pinggiran Makin Tepi
Krisis ekologi tidak datang sendiri. Ia datang bersama ketimpangan sosial. Artinya, mereka yang paling miskin dan paling terpinggirkan justru paling keras terdampak. Coba perhatikan daerah 3T (Tertinggal Terdepan, Terluar) akses sekolah masih terbatas, jalan rusak, listrik dan internet belum merata. Ironisnya, di sanalah biasanya sumber daya alam dieksploitasi. Rakyat lokal hanya jadi penonton di tanahnya sendiri.
Pendidikan seharusnya bisa memutus mata rantai ini. Tapi apakah selama ini kita berhasil?
Pendidikan jangan jadi pabrik karyawan belakangan, ada wacana menghapus jurusan yang dianggap kurang relevan dengan industri, maksudnya mungkin baik supaya lulusan gampang dapat kerja. Tapi kalau pendidikan hanya diarahkan ke pasar kerja, kita akan melahirkan generasi yang pintar bekerja. Tapi bisu terhadap ketidakadilan dan buta terhadap kerusakan alam.
Siapa yang akan memperjuangkan sungai yang tercemar kalau semua anak muda hanya sibuk mengejar gaji tinggi? Siapa yang akan membela petani dan nelayan kecil kalau sekolah tak pernah mengajarkan empati dan nalar kritis?
Ilmu sosial, budaya, filsafat, ekologi. Semua ini sering dianggap tidak laku. Padahal dari situlah lahir pemikiran yang membongkar akar masalah, bukan sekadar mengobati gejala. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, mengajarkan bahwa pendidikan harus menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak yang artinya pendidikan bukan memaksa tetapi memerdekakan.
Anak yang merdeka adalah anak yang: Mampu berpikir kritis tidak mudah percaya hoaks, bisa membaca kepentingan di balik kebijakan, peka terhadap lingkungan, tidak buang sampah sembarangan, paham dari mana makanan dan air berasal. Peduli pada sesama tidak cuek melihat temannya kesulitan mau berbagi ruang dan kesempatan. Ini bukan hanya tugas guru tetapi ini tanggung jawab kita semua, orang tua, komunitas, media, dan pemimpin bangsa.
Mari Jadikan Hardiknas Lebih Bermakna Tahun ini, saat memperingati Hardiknas, coba ajak anak-anak atau adik-adik kita melakukan hal sederhana: Ngobrol santai soal lingkungan.
Tanyakan: menurutmu, kenapa banjir sering terjadi?
Tanam satu pohon bersama agar mereka merasakan langsung merawat bumi. Cerita tentang teman yang kurang mampu agar tumbuh rasa syukur dan kepedulian. Tonton film dokumenter pendek tentang sampah plastik atau ketimpangan sosial.
Pendidikan tidak selalu harus di kelas. Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari gedung pencakar langit atau nilai ujian yang tinggi. Kemajuan sejati adalah saat rakyatnya hidup adil, alamnya terjaga dan anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang cerdas hati dan pikirannya.
Selamat Hari Pendidikan Nasional.
Jangan hanya merayakan. Mari kita bertransformasi!