Dari Keroncong ke Indie Folk: Perjalanan Panjang Musik Akustik Indonesia
Oleh: Divisi Kesenian
Dok. ikamaruwalisongo
Di tengah gempuran musik elektronik, DJ set, dan produksi digital yang semakin canggih, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar pergi dari telinga orang Indonesia: suara senar yang dipetik tanpa amplifier, tanpa efek berlebihan murni akustik. Musik akustik bukan sekadar genre. Di Indonesia, ia adalah benang merah yang menghubungkan kecapi Sunda abad ke-14 dengan lagu-lagu Payung Teduh yang meledak di YouTube pada tahun 2010 an. Ia melewati era penjajahan, menemani perjuangan kemerdekaan, bertahan di balik gempuran MTV, dan kini menemukan panggungnya kembali di kedai-kedai kopi dan festival indie. Artikel ini menelusuri perjalanan panjang musik akustik Indonesia dari ladang sawah Nusantara hingga playlist Spotify dan mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana: mengapa suara paling sederhana ini tidak pernah kehilangan tempatnya?
I. Akar Tradisi: Alat Musik Akustik Nusantara (Pra-Kolonial – 1800-an)
Jauh sebelum kata "akustik" dikenal, leluhur kita sudah bermain musik dengan alat-alat yang sepenuhnya mengandalkan resonansi alami bahan bakunya: kayu, bambu, kulit binatang, dan logam.
Dawai-dawai Pertama Nusantara
Di tanah Jawa dan Sunda, kecapi dan siter menjadi instrumen dawai utama yang dimainkan dalam ritual, upacara adat, hingga hiburan kerajaan. Kecapi Sunda dengan bentuknya yang perahu dan suaranya yang jernih bukan sekadar alat musik, melainkan medium untuk berkomunikasi dengan alam dan leluhur. Di Jawa, siter dimainkan berpasangan dengan gamelan, mengisi celah melodi di antara bunyi perunggu yang dominan. Rebab, instrumen gesek berdawai dua, masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan Arab dan Persia jauh sebelum era kolonial. Instrumen ini kemudian melebur sempurna ke dalam gamelan Jawa dan Sunda, menjadi salah satu suara paling ikonik dalam musik tradisional Indonesia.
Gambus dan Pengaruh Arab-Melayu
Di pesisir Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi bagian barat gambus menjadi raja. Instrumen petik berdawai ini dibawa oleh pedagang Arab dan menyebar luas bersamaan dengan islamisasi Nusantara. Berbeda dengan kecapi yang merakyat di pedalaman, gambus tumbuh subur di lingkungan pesisir yang kosmopolitan, sering dimainkan bersama gendang dalam pertunjukan musik dan tari Zapin.
Musik Antar Pulau yang Beragam
Keragaman ekologi Nusantara melahirkan keragaman akustik yang luar biasa. Di Batak Toba, ada hasapi sejenis kecapi dengan dua senar yang dimainkan dalam upacara adat gondang. Di Minangkabau, saluang (seruling bambu) dan rabab (gesek bersuara mendayu) menjadi pengiring dendang. Orang Bugis mengenal kecapi Bugis yang berbeda bentuk dan larasnya dari kecapi Sunda. Di Flores, sitar bambu dimainkan saat malam bulan purnama. Kesemuanya punya satu kesamaan: tidak ada amplifikasi, tidak ada rekayasa suara. Kekuatan musiknya sepenuhnya lahir dari keahlian tangan dan kedalaman napas pemainnya.
II. Era Kolonial dan Lahirnya Keroncong (1900 – 1945)
Abad ke-16 membawa perubahan besar. Bangsa Portugis yang datang membawa rempah-rempah juga membawa sesuatu yang tidak mereka rencanakan: gitar dan ukulele. Kedua instrumen ini bersama lagu-lagu navio (lagu pelaut) yang mereka nyanyikan menjadi benih dari genre musik paling orisinal yang pernah lahir di Indonesia.
Lahirnya Keroncong
Keroncong adalah anak kandung perjumpaan budaya. Ia lahir dari perpaduan melodi Portugis, ritme Melayu-Jawa, dan lirik yang kemudian berkembang menjadi puitis dan penuh falsafah. Nama "keroncong" sendiri diyakini berasal dari bunyi ukulele kecil yang berbunyi "crong-crong-crong" saat dipetik. Pada awal abad ke-20, keroncong sudah menjadi suara kota Batavia (Jakarta). Ia dimainkan di gedunggedung pertunjukan, di tepi sungai, di kampung-kampung peranakan. Format ensembelnya khas: gitar melodi, gitar ritme, cello dipetik (bukan digesek), bass, flute, dan biola semua akustik, semua mengandalkan interplay antar pemain.
Tokoh-Tokoh Pelopor
Gesang Martohartono, yang lahir di Solo pada 1917, menciptakan "Bengawan Solo" pada 1940 — lagu yang kemudian menjadi salah satu lagu Indonesia paling dikenal di dunia. Dengan melodi sederhana dan lirik yang puitis, lagu ini membuktikan bahwa musik akustik Indonesia bisa bicara kepada dunia.
Waljinah dengan suaranya yang khas, membawa keroncong ke puncak popularitas pada era 1960-an. Ia bukan hanya penyanyi, tetapi juga penjaga tradisi yang memastikan keroncong tidak larut menjadi sekadar nostalgia. Radio NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij) juga berperan penting. Stasiun radio kolonial Belanda ini, ironisnya, menjadi media penyebaran musik akustik lokal yang paling efektif di zamannya.
Musik di Bawah Tekanan Kolonial Di tengah penjajahan, musik akustik menjadi bahasa perlawanan yang halus. Lirik-lirik keroncong sering menyimpan kerinduan akan tanah air, kebebasan, dan martabat yang tidak bisa diungkapkan secara terbuka. Suara gitar dan flute menjadi medium ekspresi bagi mereka yang tidak punya kuasa politik.
III. Masa Kemerdekaan dan Era Pop Akustik (1945 – 1980-an)
Proklamasi kemerdekaan 1945 membuka babak baru. Musik akustik tidak lagi hanya medium ekspresi, ia menjadi alat pembangunan identitas nasional.
Musik untuk Negara Baru
Lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan dengan gitar sederhana menjadi soundtrack revolusi. Format akustik dipilih bukan karena keterbatasan, melainkan karena ia paling dekat dengan rakyat — bisa dimainkan di mana saja, kapan saja, tanpa perlu listrik atau peralatan mahal.
Pemerintahan Sukarno mendorong musik nasional sebagai bagian dari pembangunan identitas Indonesia. Lagu-lagu nasional diajarkan di sekolah, dimainkan di upacara, dan disiarkan di radio. Sebagian besar berformat akustik sederhana: melodi vokal yang kuat didukung gitar atau piano.
Masuknya Pengaruh Folk Barat
Pada akhir 1960-an hingga 1970-an, angin dari Barat mulai bertiup ke Indonesia. Bob Dylan, Joan Baez, dan gerakan folk Amerika yang lahir dari protes antiparang Vietnam memengaruhi mahasiswamahasiswa Indonesia yang haus akan ekspresi. Gitar akustik menjadi senjata baru kaum muda yang ingin bicara tentang ketidakadilan, kemiskinan, dan kebebasan.
Kelompok-kelompok musik mahasiswa bermunculan di kampus-kampus Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Mereka memainkan lagu-lagu folk dengan lirik berbahasa Indonesia yang tajam dan jujur — jauh dari langgam keroncong yang dianggap terlalu santun.
Tiga Suara yang Membentuk Era
Iwan Fals yang memulai karirnya sebagai pengamen jalanan dengan gitar bolong — menjadi suara paling lantang dari gerakan ini. Lagu-lagunya tentang pengemis, orang kecil, dan kritik sosial disampaikan dengan melodi akustik yang sederhana namun menghantam. Ia membuktikan bahwa gitar akustik bisa menjadi senjata yang lebih tajam dari spanduk demonstrasi.
Ebiet G. Ade membawa dimensi berbeda: introspeksi, spiritualitas, dan kepuitisan yang jarang ada dalam musik pop Indonesia sebelumnya. Dengan gitar akustik dan vokal yang lembut, ia menciptakan ruang sunyi di tengah kebisingan Orde Baru.
Gombloh memadukan tradisi lokal dengan semangat protes, menciptakan musik yang sekaligus populer dan bernyawa. Lagu-lagunya seperti "Kebyar-Kebyar" menjadi anthem yang melampaui batas generasi.
IV. Kebangkitan Akustik di Era MTV dan Reformasi (1990-an – 2000-an)
Tahun 1990-an membawa paradoks menarik: di satu sisi, musik elektronik dan rock distorsi merajai tangga lagu. Di sisi lain, MTV justru memopulerkan format "unplugged" — format yang sepenuhnya akustik dan telanjang.
Fenomena MTV Unplugged
Ketika Nirvana, Eric Clapton, dan Mariah Carey duduk di atas panggung sederhana dengan gitar akustik dan kursi kayu untuk sesi MTV Unplugged mereka, efeknya terasa sampai ke Indonesia. Tiba-tiba, musisi rock yang biasa tampil dengan marshalls dan efek pedal berlomba-lomba membuktikan bahwa mereka bisa bertahan tanpa amplifikasi. Grup-grup Indonesia seperti Dewa 19 dan Sheila on 7 merilis versi akustik lagu-lagu hit mereka. Format ini tidak hanya tren — ia membuktikan bahwa kekuatan sebuah lagu bisa diukur dari apakah ia tetap indah saat dilucuti dari semua ornamen produksi.
Café Music dan Panggung Baru
Era ini juga melahirkan fenomena "café music" musisi akustik yang tampil di kedai-kedai kopi, restoran, dan bar kecil. Panggung baru ini jauh lebih personal dari konser besar: penonton duduk berdekatan dengan pemain, bisa mendengar setiap detail petikan senar, bahkan kadang berbincang antarlagu. Format ini dengan cepat melahirkan ekosistem tersendiri. Musisi akustik solo atau duo bisa hidup dari jadwal manggung café seminggu tiga kali. Lagu-lagu Barat dipenuhi dengan cover-cover dari berbagai genre, dan perlahan lagu-lagu orisinal mulai bermunculan.
Akustik sebagai Bahasa Reformasi
Saat Indonesia memasuki era Reformasi 1998, musik akustik kembali menemukan fungsinya sebagai medium protes. Di tengah kericuhan dan ketidakpastian, banyak musisi kembali ke format yang paling jujur: satu orang, satu gitar, satu lagu. Iwan Fals kembali tampil di muka umum. Lagu-lagu baru tentang perubahan, korupsi, dan harapan dinyanyikan di kampus-kampus.
V. Era Digital dan Indie Folk Masa Kini (2010-an – Sekarang)
Jika ada satu hal yang mengubah lanskap musik akustik Indonesia secara fundamental, itu adalah internet. Dan dampaknya jauh lebih besar dari apa yang pernah dilakukan radio atau MTV. YouTube sebagai Panggung Baru Sekitar 2008-2012, YouTube mulai menjadi tempat musisi muda Indonesia memperkenalkan diri. Tidak perlu label rekaman besar, tidak perlu modal produksi mahal cukup kamera, gitar akustik, dan koneksi internet. Video-video cover akustik mulai viral. Penyanyi-penyanyi muda yang memainkan ulang lagu populer dengan gitar akustik di kamar kos atau teras rumah mendadak mendapat ratusan ribu penonton. Fenomena ini melahirkan gelombang musisi baru yang tidak melewati jalur konvensional industri musik. Gelombang Indie Folk Indonesia Di sinilah tonggak paling penting dalam sejarah musik akustik Indonesia kontemporer ditancapkan. Payung Teduh yang dibentuk di Jakarta sekitar 2007 membawa musik akustik ke level baru. Dengan paduan gitar akustik, ukulele, bass, dan vokal Is (Mohammad Istiqamah Djamad) yang khas, mereka menciptakan musik yang sekaligus tradisional dan segar. Lagu-lagu seperti "Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan" dan "Angin Pujaan Hujan" menjadi lagu-lagu yang dinyanyikan jutaan orang yang bahkan tidak pernah mendefinisikan diri sebagai penggemar musik indie. Efek Rumah Kaca membuktikan bahwa musik akustik bisa menjadi platform untuk lirik-lirik yang kritis dan puitis sekaligus. Dengan pendekatan yang lebih art-rock namun tetap berbasis akustik, mereka memperluas definisi tentang apa yang bisa dilakukan gitar tanpa distorsi. Hivi! membawa warna pop yang lebih cerah ke dalam genre ini, menunjukkan bahwa musik akustik t idak harus selalu serius dan melankolis. Tren Cover Viral dan Dampaknya Fenomena cover akustik di media sosial membawa dampak yang tidak sederhana. Di satu sisi, ia mendemokratisasi musik siapa pun bisa menjadi musisi dan mendapat penonton. Di sisi lain, ia menciptakan ekosistem baru di mana batas antara musisi profesional dan amatir semakin kabur. Platform seperti TikTok kemudian mempercepat fenomena ini. Sebuah cover akustik yang direkam dengan ponsel bisa mendapat jutaan penonton dalam satu malam, meluncurkan karir seorang penyanyi yang sehari sebelumnya tidak dikenal siapapun. Kolaborasi Lintas Genre Musik akustik hari ini tidak lagi berdiri sendiri. Ia berkolaborasi: dengan elektronik (acoustic-electronic fusion), dengan jazz (banyak musisi jazz Indonesia yang kembali ke format stripped-down), bahkan dengan musik tradisional dalam berbagai eksperimen world music. Komunitas open mic tempat siapa saja bisa naik panggung dengan alat musik akustik dan membawakan lagu bermunculan di hampir setiap kota besar Indonesia. Festival musik outdoor dengan panggung akustik menjadi pilihan weekend yang semakin populer, terutama di kalangan usia 20-35 tahun.